Pertandingan perebutan tempat ketiga ASEAN Cup U-16 Putri 2025 antara Timnas Putri U-16 Indonesia melawan Vietnam di Stadion Manahan, Solo pada Jumat (29/8/2025) berakhir dengan drama adu penalti yang mendebarkan. Sayangnya, Garuda Pertiwi Muda harus mengakui keunggulan Vietnam dengan skor 6-7 setelah bermain imbang 1-1 selama 90 menit. Lebih dari sekadar hasil akhir, laga ini diwarnai insiden tak terduga: masuknya gas air mata ke dalam stadion.
Insiden gas air mata tersebut terjadi akibat gejolak di depan Mako Brimob Solo, yang berlokasi persis di sebelah barat kompleks Stadion Manahan. Paparan asap dan gas membuat suasana di dalam stadion menjadi tegang, bahkan memaksa penonton yang berada di tribune selatan bagian barat untuk dievakuasi ke area VIP demi keamanan dan kenyamanan mereka.
Menanggapi situasi yang sempat mencekam itu, pelatih Timnas Putri U-16 Indonesia, Timo Scheunemann, mengungkapkan perasaannya dalam sesi konferensi pers pasca-laga. “Di tengah suasana yang sedikit mencekam ini ya, bisa merasakan gas air mata di luar tadi,” ujarnya, menjelaskan bahwa kondisi tersebut pula yang menjadi alasan mengapa timnya tidak menyanyikan lagu kebangsaan “Tanah Airku” setelah pertandingan usai.
Meskipun harus menerima kekalahan tipis melalui adu penalti, Timo Scheunemann tidak ragu memberikan apresiasi tinggi kepada anak asuhnya. Ia menilai bahwa mampu menahan imbang Vietnam—sebuah tim yang secara tradisional selalu unggul di sepak bola putri—hingga 90 menit dan memaksa pertandingan ke babak adu penalti adalah sebuah ‘milestone’ atau tonggak pencapaian yang sangat berarti bagi timnas. “Saya rasa hari ini istilah bahasa Inggrisnya Milestone, karena kita belum pernah bisa seri atau setara dengan Vietnam di cewek ya,” tegasnya.
Pencapaian ini sangat signifikan mengingat posisi Indonesia dalam kancah sepak bola putri regional. “Seperti yang saya bilang, kita dengan Australia masih kalah, dengan Thailand masih kalah, dengan Vietnam kita sudah setara 50:50, sampai adu penalti lebih dari 5 tendangan, memang sangat imbang,” jelas Timo. Ia mengakui bahwa Vietnam memiliki beberapa tembakan berkelas dan beruntung dengan gol pertama mereka, namun secara keseluruhan, hasil seri dinilai pantas. “Saya bangga dengan pemain-pemain saya mereka sudah memberikan yang terbaik. Walaupun passing-passing mereka belum yang seharusnya mereka bisa. Kalau itu terjadi, kita bisa banyak serangan dan mungkin gol, jadi masih lumayan masih xoxo (fifty-fifty),” tambahnya, seraya mengingatkan bahwa “Kalau lawan Vietnam memang harus selalu bagus kalau mau menang.” Bahkan, ia membandingkan ini dengan tim senior yang pernah kalah 0-7 dari Vietnam, menegaskan betapa bersejarahnya hasil imbang ini.
Lebih lanjut, Timo Scheunemann optimistis melihat perkembangan pemainnya sepanjang empat laga yang telah dijalani di ASEAN Cup U-16 Putri 2025. Garuda Pertiwi Muda telah mengumpulkan pelajaran berharga, mulai dari mampu mengeluarkan kemampuan terbaik saat melawan tim seperti Timor Leste, hingga belajar mengatasi tekanan kuat yang membuat performa mereka sempat menurun. “Ini datang dari pengalaman nantinya,” pungkas Timo. “Kita sudah sebulan setengah bersama saling mengerti walau masih banyak kekurangan tetapi saya sangat bangga,” sebuah pernyataan yang merefleksikan proses pembinaan dan semangat kebersamaan tim yang terus tumbuh.
Ringkasan
Pertandingan Timnas Putri U-16 Indonesia melawan Vietnam di ASEAN Cup U-16 Putri 2025 diwarnai insiden gas air mata yang masuk ke Stadion Manahan akibat gejolak di luar stadion. Insiden ini sempat membuat suasana tegang dan memaksa evakuasi sebagian penonton.
Meskipun kalah dalam adu penalti, pelatih Timo Scheunemann menilai hasil imbang melawan Vietnam sebagai pencapaian penting bagi sepak bola putri Indonesia. Ia bangga dengan performa timnya dan optimis melihat perkembangan para pemain sepanjang turnamen.